Screenshot_2026-06-10-15-19-20-00_a23b203fd3aafc6dcb84e438dda678b6
“Lupa Menjaga Tulisan Sama Artinya Lupa Menjaga Iman” BAHAYA CYBERBULLYiNG DI MADRASAH

Mengapa penting menjaga tulisan? Apakah  ini sebagai cerminan kemampuan kita menjaga iman? Yuk kita bahas sedikit sebagai tambahan wawasan dalam bermedia sosial.

 
 
Pertama sekali kita akan membahas defenisi jemari adalah pengganti lisan.

 
Di era digital, komunikasi santri telah berpindah ke layar ponsel. Hukum menjaga lisan dalam Islam sepenuhnya berlaku untuk tulisan, komentar, maupun pesan singkat di media sosial. Rasulullah Salallahu alaihiwasalam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim). Di era modern, makna ‘berkata’ mencakup apa yang kita ketik di dunia maya.
 
Kedua setiap ketikan akan di pertanggungjawabkan di akhirat

 
Apa pun bentuk dan isi komentar di kolom media sosial, status, atau pesan di grup obrolan yang luput dari pengawasan Allah SWT. Semua ketikan digital akan dituntut pertanggungjawabannya. Dalam Al-Qur’an  (Surah Qaf Ayat 18): مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap (atau tertulis), melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
 
Ketiga merawat ukhuwah islamiyah dengan bijak bermedsos

 
Menghindari perundungan dunia maya (cyberbullying), menghentikan penyebaran aib (ghibah), dan menolak fitnah digital adalah bukti nyata dari komitmen santri dalam menjaga persaudaraan. Dalam sebuah hadist Rasulullah Salallahu alaihiwasalam bersabda: “Seorang muslim yang sejati adalah orang yang mana orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan (tulisan) dan tangannya.” (HR. Bukhari)
 
Kempat tulisan Santri mewakili kualitas ilmu dan akhlaknya

 
Ilmu agama yang dipelajari di madrasah atau pondok pesantren tidak boleh hanya sebatas teori. Ilmu tersebut harus tecermin lewat ketikan yang santun, bijak, beradab, serta membawa maslahat bagi pembacanya. Dalam sebuah hadist Rasulullah Salallahu alaihiwasalam bersabda: “Seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan iman yang lurus sebelum hatinya lurus, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lisannya (tulisannya) lurus.” (HR. Ahmad)
 
 
Kelima menjadikan gadget sebagai ladang amal, bukan dosa

 
Ponsel dan internet adalah alat digital yang tidak memiliki hati. Sehingga hal ini tergantung pada pengguna. bagi  santri yang memiliki iman kuat akan menggunakan jemarinya secara sadar untuk menyebarkan ilmu, memberikan semangat, dan memutus rantai penindasan digital. Dalam Al-Qur’an (Surah Al-Hujurat Ayat 11): “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka…”

 

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait