Gerimis tipis menyertai pagi Idul Adha, tetapi bagi Rifai, langit seolah sedang ikut menangis. Di sudut halaman masjid, seekor sapi berbulu cokelat mengkilap sedang tenang mengunyah rumput. Sapi itu bernama Si Jalu.
Rifai berjalan mendekat, langkahnya terasa seberat batu. Ingatannya mundur ke dua tahun lalu, saat Jalu masih menjadi anak sapi yang kurus dan lemah. Rifailah yang menyuapinya rumput muda dan membersihkan
kandangnya setiap sore. Kini, Jalu sudah tumbuh menjadi sapi yang gagah dan sehat. Namun, hari ini adalah batas akhir kebersamaan mereka.
Rifai berlutut di samping Jalu. Tangan kecilnya gemetar saat mengelus punuk sahabatnya itu. Air mata yang sejak subuh ia tahan, akhirnya
runtuh juga. Dada Rifai sesak. Setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi bulu halus di kepala Jalu. Sebuah tangan yang hangat dan kokoh mendarat lembut di pundak Rifai. Ayahnya, Raja Dulah, sudah berdiri di sampingnya. Wajah Raja Dulah
tampak teduh, mencerminkan kesalehan yang terpancar dari dahi yang sering bersujud.
“Rifai, anakku,” panggil Raja Dulah dengan suara baritonnya yang tenang.
“Berat rasanya, Nak?”
Rifai mendongak, matanya merah dan basah. “Sangat berat, Ayah. Rifai yang merawat Jalu dari kecil. Kenapa harus Jalu yang dipilih untuk
disembelih hari ini?”
Raja Dulah tersenyum arif. Beliau ikut berlutut di samping putranya, lalu mengusap sisa air mata di pipi Rifai.
“Rifai, ingatkah kamu cerita tentang Nabi Ibrahim yang diminta
menyembelih Nabi Ismail?” tanya Raja Dulah lembut.
Rifai mengangguk pelan. “Iya, Ayah. Ismail adalah anak yang paling dicintai Nabi Ibrahim.”
“Benar,” sahut Raja Dulah. “Allah tidak butuh daging atau darah dari
hewan kurban ini, Nak. Yang Allah uji adalah hati kita. Apakah kita lebih mencintai makhluk-Nya, atau lebih mencintai Sang Pencipta? Kurban ini adalah jalan kita untuk menundukkan ego dan membuktikan keteguhan
iman kepada Allah Ta’ala.”
Rifai menatap Jalu yang kembali melenguh pelan, seolah mendengarpercakapan mereka.
“Tapi Rifai sayang sekali dengan Jalu, Ayah.”
“Justru karena kamu sangat menyayanginya, kurban ini menjadi begitu bernilai di mata Allah,” Raja Dulah merangkul pundak Rifai erat.
“Menyerahkan sesuatu yang paling kita cintai dengan penuh keikhlasan adalah puncak dari sebuah ketaatan. Insyaallah, Jalu akan menjadi saksi keimananmu di akhirat kelak. Ayah bangga punya anak yang penyayang,
tapi Ayah akan lebih bangga jika anak Ayah tumbuh menjadi hamba yang saleh dan takwa.” Mendengar nasihat runut dari ayahnya, dada Rifai yang semula sesak
perlahan mulai terasa lapang. Aliran ketenangan mengalir ke dalam hatinya. Perasaan sedih itu tidak sepenuhnya hilang, namun kini telah
berganti menjadi rasa ikhlas yang kokoh. Rifai menarik napas panjang dan menyeka air matanya. “Iya, Ayah. Rifai
paham sekarang. Rifai ikhlas menyerahkan Jalu untuk Allah.” Raja Dulah tersenyum bangga, lalu berdiri. “Alhamdulillah. Mari, Nak.
Sudah waktunya kita serahkan Jalu kepada panitia.”
Dengan tangan yang masih gemetar namun penuh keteguhan iman, Rifai menuntun tali pengikat Jalu bersama ayahnya. Saat Jalu mulai dibawa
ke area penyembelihan, Rifai berdiri tegak di samping Raja Dulah. Air matanya mengalir lagi, bukan lagi karena tak rela, melainkan karena rasa haru yang membuncah karena berhasil melewati ujian keimanan pertamanya.
