Rubaida Rose
WAJAH KOPI DI LAMBUNG TEKO
Ayah
Membawa fajar dalam pijar nan redup
Seteko mimpi hangat, melepas candala pada wajah senja
Seduhan kisah kau biarkan mendidih, menjemput takdir perih
pada dinding lelap dan hening
Aroma tubuh kopi melekat erat pada wajah pekat
gugur bersama rintik pahit yang merekat
Ketukan lembut di pintu-pintu langit kau titipkan di sajadah tanpa sekat
Ayah
Kau abai pada wajah hujan yang basah
lupa pada debur penghempas nyali nan pasrah
Bahumu lindap menyulam selangit kasih tanpa kata
pada gelas-gelas yang meracik lirih
menyeka potongan mimpi yang bergemuruh di balik sedih
Ayah
Di antara buih dan wangi di ujung sendok yang menari
ada sepiring tawa melukiskan deretan rupiah
menghapus air mata yang tumpah di tas sekolah
Tumpukan sabar, merapatkan pintu-pintu yang kosong
terlelap hingga hitamnya panci membasuh suci
Ayah
Di balik kepul mimpi yang kau pasak sendiri
Jejak pahit mengekal, memahat lelah di kerut dahi
Ia menjelma embun, yang jatuh menyulut cahaya hari
Bukan tangis !
Namun peluh yang enggan menepi
Demi kokohnya tiang waktu yang muak memeluk layu
Kuantan Singingi, 07 Februari 2026
Rubaida Rose, seorang pemetik rima yang kini berumah di bawah langit Kuantan Singingi. Ia lahir dan tumbuh dari akar gambut Indragiri Hilir, Kota Tembilahan. Baginya, kata-kata adalah palung waktu, tempat segala rindu dan kenangan kembali pulang. Mengajar baginya bukan sekadar profesi, melainkan sebuah sajadah suci pengabdian. Di ruang kelas, ia menjemput remah-remah kata untuk dirajut menjadi cerita bermakna. Mencintai aroma kopi ayah telah menjadi candu yang mengalir dalam nadi kreativitasnya. Pada teduhnya wajah ayah, ia menitipkan doa-doa panjang menuju rumah suci semesta.
